Memahami Aswaja Sebagai Dasar Menjadi Kader NU dan Warga Negara yang Taqwa
Oleh : M. Rifqi
Kita sebagai warga negara Indonesia pada umumnya dan kader NU khususnya mengetahui apa itu Aswaja, akan tetapi mungkin banyak yang belum memahaminya secara detail dan mampu mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu disini sini saya akan menjelaskan sedikit tetapi mudah-mudahan dapat dipahami apa itu aswaja dan bagaimana penerapan dalam kehidupan kita sebagi kader dan warga negara yang baik.
Sesuai dengan tema harlah NU yang ke 95 yaitu “menegakkan Aswaja dan Komitmen Kebangsaan”, maka disini saya akan mengupas tentang apa itu Aswaja dan Bagaimana cara kita mengamalkannya.
Baiklah mari kita kupas mengenai apa itu Aswaja, aswaja yaitu singkatan dari Ahlussunah wal Jamaah. Ahlu yaitu pengikut atau sekelompok golongan,, As-sunah yaitu jalan yang diridhoi Allah (baik perkataan, perbuatan, dan ketetapan nabi Muhammad), sedangkan Jama’ah yaitu kelompok mayoritas atau golongan sesudah nabi yaitu sahabat tabin’in dan para pengikutnya sampai akhir zaman).
Baca juga : Representasi Pesantren NU dalam Bingkai Nasionalisme
Dari sini dapat disimpulkan bahwa Aswaja yaitu golongan yang mengikuti ajaran yang diridhai oleh Allah SWT, yaitu ajaran Nabi SAW, para sahabat dan tabi’in, serta generasi penerus mereka yang terdiri dari golongan terbesar umat Islam dalam setiap masa. Dari sini sangat jelas bahwa sanad keilmuan itu sangat penting, belajar dengan guru hukumnya adalah wajib. Dan di sini perlu kita ketahui bawa Aswaja bukanlah NU semata akan tetapi kita harus yakin bahwa NU adalah bagian dari Ahlussunah wal jama’ah karena NU termasuk salah satu kelompok Mayoritas di Indonesia.
Mari kita kupas sedikit mengenai dasar hukum Aswaja yaitu Alqur’an, Hadits, Ijma', qiyas, dan seterusnya. Dan dari bidang keilmuan Aswaja juga memiliki Imam yang harus kita Anut. bidang Tauhid kita mengikuti Abu hasan As’ary dan Abu Mansur Al Maturidi sedang kan dari fiqih kita wajib mengikuti dari salah satu 4 madzhab yaitu imam Hanafi, Maliki,Syafi’I dan Hambali dari segi tasawuf yaitu Imam Al Ghozali, Syekh Abdul qodir Al Jailani dan Imam junaidi Al Bagdadi.
Dari uraian di atas sudah jelas aswaja itu apa dan apa yang menjadi pedoman kita, serta siapa yang menjadi kiblat kita. Tentunya kita mampu memahami itu semua harus dengan guru tidak secara instan. Dan para ulama Terdahulu telah mengaturnya tidak asal-asalan atau sudah melalu istigharah dan kesempatan para ulama demi kemaslahatan umat. Saya ingat dawuh Gus Baha’ “kita sebagai orang awam itu harus mengikuti umumnya orang atau mayoritas orang jadi ketika kita memilih NU itu sudah benar karena NU adalah Ormas mayoritas di Indonesia dan Imam-imam yang di pilih sebagai kiblat di bidangnya masing-masing itu juga sudah tepat sesuai dengan kehidupan normal seorang ulama, karena apa banyak sekali Ulama yang kehidupannya tidak bisa kita terima dengan Akal Syekh siti jenar misalnya”.
Baca juga : Harlah NU : PK SMK YP Baradatu Gelar Khotmil Qur'an
Kesimpulan dari materi di atas, yaitu kita sebagai warga NU sudah tepat jika kita memilih NU Sebagi pedoman kita karena sudah sesuai dengan aswaja, mulai dari amalan yang kita lakukan yaitu dengan sanad yang jelas dari Nabi Muhammad, sampai kepada Ulama-lama yang kita anut. Kita sebagai kader harus cerdas ilmu itu harus dipelajari dengan guru yang yang jelas sanadnya, karena ilmu tanpa guru, gurunya adalah syetan. Harus kita ketahui Alqur’an dan Hadits adalah Landasan hukum yang pertama, tetapi tidak semuanya harus berdasarkan pada Alqur’an dan hadits tetapi tetap disandarkan kepadanya, karena apa banyak sekali hukum yang belum ada di zaman Nabi, dan para ulama atau penerusNya lah yang harus kita jadikan kiblat. ”Al Ulama warasatul anbiya”.
Terus apa hubungannya dengan menjadi warga negara yang baik?. Tentu banyak, dengan kita paham arti Aswaja maka kita akan taat kepada pemerintah, karena nabi adalah juga seorang pemimpin yang mengajarkan kepada umatnya untuk selalu patuh terhadap pemimpin. Dan di Alqur’an pun juga dijelaskan kita harus ta’at kepada Allah kepada Rasul dan kepada pemimpin. Selagi pemimpin itu tidak mengajak kita pada keburukan. Banyak sekali di jaman sekarang Ormas-ormas islam yang baru yang masih minoritas justru memprovokasi untuk melawan pemimpin dan mendirikan negara islam bahkan mengatasnamakan islam demi kepentingan mereka.padahal islam mengajarkan kita untuk saling berdamai sebagaimana yang diajarkan nabi, dan arti dari islam itu yaitu selamat.
Sebagai penutup kita sebagai warga NU ketika kita mampu mengamalkannya ajaran NU dengan baik maka kita sudah menegakkan Aswaja dengan benar dan tentunya akan mampu menjadi warga negara yang baik karena di NU khusunya kita diajarkan tentang apa itu Toleransi, menghargai orang lain dan Sopan santun terhadap siapapun yang tentunya semua itu tidak secara instan kita dapatkan, melainkan yaitu dengan terus belajar kepada Guru dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. Dan saya juga belum pernah mengetahui ulama-ulama kita mengajarkan kita untuk berperang dan saling bermusuhan. Dan itulah yang dimaksud menjadi warga negara yang taqwa karena dengan Berdamai, saling kasih saying dan Toleransi akan tercipta negara yang Adil dan Makmur.

Leave a Comment