Akibat Kurang Ngopi | Cerpen Penuh Makna
![]() |
| Ilustrasi . Kompasiana.com . Ist |
Oleh : Pecandu Sastra
SIANG itu Kahfi
pergi meninggalkan teman-temannya, dari keramaian itu ia menyendiri ke luar
gedung. Ditemukannya tempat berteduh dan menyepi di gubuk tua yang kumuh sebab
sudah lama tak berpenghuni yang tak jauh dari kebun samping kolam ikan di belakang
asrama. Konon gubuk itu dulu dipakai para santri yang mendapat jatah mengurusi
kebun.
Sejak musim
kemarau pada awal Maret lalu jadwal berkebun tidak lagi berjalan sebagaimana
biasa dan akan kembali aktif di Juni mendatang. Menurut ramalan cuaca Juni
adalah bulan musim penghujanan.
Ia baringkan
badan pada sisi kanan gubuk, beralas sarung yang ia kenakan sewaktu setoran
hafalan qur'an siang tadi serta tumpuan kedua tangan nya menjadi bantal.
Wajah Kahfi lesu,
murung. Kegelisahan dan kekecewaan nampak menyatu berseteru menghiasi pandangan
wajahnya yang tak lagi gembira sebagaimana biasa.
"Apa bedanya aku dan dia?"
tanya Kahfi membatin. –“Kenapa mesti dia yang masih berstatus sebagai santri baru
disini?"
Mata anak itu mulai berlinang. Embun
yang menghiasi sekujur kelopak mata membentuk kristal perlahan memecah
keheningan. Hati Kahfi kian lara, isak tangis tak mampu ia tahan, mengingat
sudah dua tahun lebih ia menempa diri menjadi seorang santri di pesantren asuhan
Kiai Said yang sangat ia ta’dzimi[1]. Ketawadu'an dan kecerdasan beliau lah yang
menjadikan Kahfi untuk selalu berusaha taat serta patuh pada dawuh beliau.
Tak disangka isak tangis Kahfi
mengundang penasaran Ustadz Maulana yang melintas kebun itu. Ia hendak menuju
asrama santri laki guna mengecek keadaan santri siang itu sekaligus menta'zir[2] para santri yang tidak ikut jama'ah, muroja’ah[3], serta setoran hafalan di masjid. Entah hal apa yang membuat Ustadz Maulana
siang itu menggerakkan kakinya melintasi kebun itu, tak biasa ia ke asrama laki
lewat jalan belakang.
Setelah mencari dan menemukan asal-muasal suara tangis redup itu,
ia kaget sebab tak biasa ada santri yang menyepi disitu apalagi sampai menangis
sendirian.
"Lha le[4],
kamu ngapain disini sendirian," ujar Ustadz Maulana memecah lamunan Kahfi.
Kahfi yang menyadari kehadiran gurunya
itu sontak kaget dan langsung bangun dari pembaringan. sesegera mungkin ia
menghapus jejak air mata yang membasahi kedua wajahnya.
“Sejak kapan ya ustadz
berada disini?” gumam Kahfi dalam hati.
"Aku lagi
hafalan ustadz," jawab Kahfi terbata, sesekali ia menyapu wajahnya dan
memasang wajah gembira. –“Ia ustadz hafalan, agar nanti lancar
setorannya,"
"Kamu jangan bohong, aku lo dari
tadi disini," –“Tidak biasanya
kamu menyendiri dan sedih seperti ini?”
“Kau sudah makan le?”
tanya Ustadz Maulana kembali.
“Nanti
tadz, aku belum lapar?”
“Kau
punya masalah apa le, cerita sama ustadz supaya ustadz juga tahu dan
kasih solusi,”
Mendengar hal itu hati Kahfi tak kuasa untuk terus menutupi
apa yang tengah menimpa dirinya, perasaan yang tak karuan kian membendung dalam
hati meminta untuk dicurahkan. Sebetulnya ia
malu dan sungkan untuk berbagi, namun sebab desakan Ustadz Maulana, akhirnya
ia memberanikan diri untuk berkata jujur kepada guru yang sudah ia anggap
sebagai teman curhat itu pula.
Hal itu bukanlah
kali pertama Kahfi berbagi cerita dengan ustadz Maulana, sebab itu beliau juga
paham sikap Kahfi.
Setelah
panjang lebih bertutur kata, Kahfi kembali terisak. Unek-unek yang menumpuk
memenuhi pikiran kini perlahan tersampaikan.
Usai mendengar
curhatan dari Kahfi, Ustadz maulana berkata jika Kahfi kurang ngopi. Mendengar
penjelasan dari sang guru Kahfi bingung dan terheran, bagaimana mungkin masalah
yang ia hadapi disebabkan ia kurang ngopi.
"Apa hubungannya antara masalah
aku ini dengan kopi ustadz?" tanya Kahfi penasaran.
"Coba kau cermati, kopi itu bukan
sekedar minuman biasa. Jika kau menikmatinya dengan sungguh-sungguh maka kau
akan menemukan intisari kehidupan di dalam nya,"
Lebih lanjut
Ustadz Maulana berpesan kepada Kahfi, ada banyak hal yang bisa dipetik dari
secangkir kopi. Dari pemilihan biji kopi itu sendiri, pembuatan kopi, hingga
rasanya. Banyak pelajaran yang bisa dijadikan motivasi dalam hidup.
Untuk mendapatkan
secangkir kopi yang nikmati, maka kopi harus diolah dengan baik. Begitu pula
dengan usaha kita untuk mendapatkan hasil yang bagus dan maksimal, maka kita
haru mengerahkan kemampuan yang lebih.
Dari ribuan biji kopi yang dipetik terpilihlah
biji-biji kopi pilihan yang berkualitas sehingga rasa dan aromanya sangat sedap
dan dapat dinikmati oleh orang banyak. Hal ini pun berlaku sebagaimana tekad
kita dalam meraih sebuah impian, ketika kita menginginkan hasil yang baik, maka
kita harus siap berkorban dan mengerahkan segala kemampuan dengan maksimal.
Bukan hanya sekadar niat yang setengah-setengah.
Selanjutnya biji
kopi pilihan tersebut akan dijemur dibawah terik matahari dan selepas itu ia
ditumbuk atau digiling menjadi bubuk
kopi yang bisa dinikmati. Tak hanya sampai disitu masih ada proses lagi yakni diseduh
dengan air panas barulah bisa dinikmati. Hal ini pun sama dengan hidup kita,
untuk mendapatkan mental yang kuat terkadang kita dihadapkan dengan berbagai
masalah, kita pun harus ditempa dan digiling dengan pelbagai konflik dalam
kehidupan.
Untuk
menghasilkan kopi yang nikmat, ada proses panjang yang harus dilalui agar kopi
dapat dinikmati setiap orang dan semua kalangan. Utuk menggapai sebuah
keberhasilan dan kesuksesan kita harus berjuang dan mengerahkan segala
kemampuan. Itulah proses hidup, jika kehidupan kita berat dan membuat letih,
bersabarlah dan serahkan semua kepada Allah, sebab dengan mengingat-Nya dan
hanya kepada-Nya lah kita kembali, berharap, dan bergantung.
Kita harus jatuh,
bangkit, lalu jatuh kembali. Hal ini memang sakit dan membuat sesak, akan
tetapi dibalik semua itu secara tidak sadar akan membuat kita jauh lebih kuat.
Dan
selanjutnya pahit manisnya kopi ibaratkan getir dan indah kehidupan kita, jika
kita syukuri perpaduan itu maka akan terasa lebih nikmat. Selayaknya kopi, ia
membutuhkan rasa pahit agar lebih enak, sebab jika terlalu manis maka intisari
nya akan berkurang. Sama halnya dalam hidup kita, ada hal pahit yang terasa
begitu getir dan ada hal manis yang membuat ia berwarna. Semua memiliki nilai dan makna.
Dalam menikmati
kopi pun kita harus menyeruputnya secara perlahan, sama halnya dengan hidup
dinikmati saja dengan baik dan ikuti alur dengan benar. Sebab proses jauh lebih
penting dari pada hasil akhir.
Lalu terakhir,
untuk mendapatkan secangkir kopi yang nikmat juga membutuhkan langkah yang
panjang. Setelah terpilih, dijemur, digiling, dan diseduh dengan air panas,
barulah kopi itu dapat dinikmati oleh setiap orang. Begitu pun dengan hidup
yang kita jalani saat ini, mungkin kita belum sampai pada tahap dimana rasa
nikmat itu dapat kita nikmati, akan tetapi masalah dalam proses dijemur dan
digiling. Tidak perlu takut untuk gagal, selagi kita bersemangat dan bekerja
keras maka akan tibalah waktu dimana kita menggapai apa yang kita cita-citakan.
"Masalah kau
cemburu dengan santri baru yang telah terdahulu
menyelesaikan setoran, seharusnya hal itu tidak perlu. Kau ajak lah dia ngopi,
tanya apa yang membuat ia begitu mudah menghafal dan kau pelajari, ikuti cara yang ia
pakai," tutur Ustadz Maulana menasehati Kahfi. –“Sudah tak usah
bersedih, nikmati saja setiap proses le, semua akan indah pada
waktunya,"
Kahfi
terharu mendapat nasihat indah dari sang guru. Ia sadar selama ini ia hanya
mementingkan hasil dan lupa akan prosesnya.
Dari wejangan Ustadz Maulana kini Kahfi paham arti hidup sesungguhnya.
Setiap orang memiliki masa dan waktu yang berbeda-beda, tinggal bagaimana ia
mengolahnya. Ia menyadari jika selama ini ia hanya sibuk menghafal dan
melupakan teman-teman yang seharusnya menjadi teman berbagi. Seandainya ia
sering berbaur dengan teman yang lain, akan banyak cara dan pengetahuan ia
dapatkan untuk menggapai impian dari berbagai jalan.
Ia bersyukur
memiliki guru yang peka dan peduli. Ia berjanji pada dirinya untuk lebih giat
dan semangat hafalan qur’an agar impian memberikan mahkota terindah bagi kedua
orang tua bisa ia wujudkan.
Sejak itu, Kahfi
kini banyak ngopi bareng teman-teman nya. Termasuk mengolah pikiran.
[1] Hormat/menghormati
[2] Memberi hukuman
[3] Mengulang
pelajaran/hafalan
[4] Panggilan Jawa untuk anak
laki-laki
---------------------------------------------------------------------------------
*** Pecandu Sastra merupakan aktivis yang aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kabupaten Way Kanan. Pemilik nama asli Disisi Saidi Fatah gemar membaca dan menulis. Penyuka warna biru ini aktif menulis sejak tergabung dalam forum BPUN Mata Air Way Kanan Lampung di bawah naungan sang maha guru Komandan Gatot Arifianto, CH., CNNLP. Ia dapat dihubungi melalui instagram (@itsme1disisi dan @pecandusastra96)
---------------------------------------------------------------------------------
Note : Bagi saudara-saudari yang ingin tulisannya dipublikasikan pada "Pojok Pelajar Lampung", bisa dikirim ke redaksi di pecandusastra96@gmail.com . Dengan syarat warta; memenuhi komponen 5 w + 1 h. Untuk Opini, Essai, Puisi, Cerpen, dan lainnya syarat utama harus karya orisinil (bukan plagiat).

Leave a Comment